بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Dahulu, manusia dikenal dari lisannya. Apa yang keluar dari mulutnya menjadi cerminan hatinya. Namun hari ini, lisan itu tidak hanya di mulut—ia berpindah ke ujung jari. Apa yang kita ketik di gawai, apa yang kita kirim, komentari, dan sebarkan—itulah lisan kita di zaman ini.

Allah ﷻ telah mengingatkan:

مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada satu kata pun yang diucapkan melainkan di sisinya ada malaikat yang mencatat.”¹

Ayat ini tidak hanya berlaku untuk ucapan, tetapi juga tulisan. Karena di sisi Allah, semua yang keluar dari kita—baik suara maupun huruf—akan tercatat dengan sempurna.

Bayangkan seseorang yang duduk sendirian di malam hari. Tidak ada yang melihatnya. Ia membuka ponselnya, lalu menulis satu kalimat: komentar pedas, sindiran tajam, atau bahkan fitnah. Ia menekan tombol kirim, lalu menutup ponselnya, merasa semuanya telah selesai.

Padahal, di sisi Allah, itu baru saja dimulai.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ
“Seseorang mengucapkan satu kalimat tanpa dipikirkan, yang menyebabkan ia terjatuh ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat.”²

Satu kalimat… bukan pidato panjang, bukan tulisan panjang—hanya satu kalimat. Lalu bagaimana dengan kalimat yang dibaca ribuan orang? Yang dibagikan berkali-kali? Yang terus hidup meskipun kita sudah lupa pernah menulisnya?

Ma’asyiral muslimin,

Lisan bisa menjadi jalan menuju surga, namun juga bisa menjadi sebab seseorang tersungkur ke dalam neraka.

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ
“Tidaklah manusia tersungkur di neraka di atas wajah mereka kecuali karena hasil dari lisan mereka.”³

Hari ini, “hasil lisan” itu bukan hanya ucapan, tetapi juga jejak digital kita. Status, komentar, caption, bahkan pesan singkat—semuanya akan menjadi saksi.

Betapa banyak orang yang ringan mengetik, tetapi berat menanggung akibatnya. Ia merasa hanya “bercanda”, padahal yang dibacanya terluka. Ia merasa hanya “beropini”, padahal yang tersebar adalah kebencian.

Padahal Rasulullah ﷺ telah memberikan kaidah sederhana namun dalam:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.”⁴

Di zaman ini, “diam” bukan hanya tidak berbicara, tetapi juga tidak mengetik. Tidak semua hal harus dikomentari. Tidak semua berita harus dibagikan. Tidak semua emosi harus dituliskan.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Namun kabar baiknya, sebagaimana lisan bisa menjerumuskan ke neraka, ia juga bisa menjadi jalan menuju surga.

Satu ayat yang kita bagikan, bisa dibaca ratusan orang.
Satu nasihat yang kita tulis, bisa mengubah hidup seseorang.
Satu doa yang kita kirim, bisa menguatkan hati yang lemah.

Dan semua itu akan terus mengalir sebagai pahala.

Maka sebelum jari kita mengetik, tanyakan pada diri:
Apakah ini mendekatkanku ke surga, atau justru menyeretku ke neraka?

Karena bisa jadi, surga dan neraka kita… dimulai dari satu kalimat.

Semoga Allah menjaga lisan kita, menjaga jari-jari kita, dan menjadikan setiap kata yang keluar dari kita sebagai jalan menuju ridha-Nya.

والله أعلم بالصواب.

Lulusan Sarjana di STIBA AR-Raayah (IMC) & Magister di Philadelphia University Yordania

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *