بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
“Apabila datang bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa pada bulan Ramadhan, gangguan setan dilemahkan. Lalu mengapa kita masih melihat kemaksiatan terjadi?

Para ulama menjelaskan bahwa yang dibelenggu adalah para setan yang membangkang, sehingga godaan mereka melemah, namun tidak sepenuhnya hilang. Selain itu, manusia tetap memiliki hawa nafsu.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي
“Sesungguhnya nafsu itu benar-benar selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali yang dirahmati oleh Rabbku.”
(QS. Yusuf: 53)

Inilah kuncinya. Nafsu tidak ikut dibelenggu. Jika seseorang tetap bermaksiat di bulan Ramadhan, padahal setan dilemahkan, maka bisa jadi dorongan itu berasal dari hawa nafsunya sendiri.

Bahkan Allah juga memperingatkan:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلٰهَهُ هَوَاهُ
“Tidakkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”
(QS. Al-Jatsiyah: 23)

Ramadhan sejatinya adalah hikmah dan pembuktian bagi umat Islam. Ia menjadi cermin kejujuran iman. Jika selama ini seseorang beralasan bahwa ia bermaksiat karena godaan setan, maka Ramadhan membuktikan: ketika setan dibelenggu, apakah ia masih terjatuh dalam maksiat?

Jika jawabannya masih iya, maka bisa jadi selama ini maksiat itu bukan semata karena bisikan setan, tetapi karena hawa nafsu yang sudah terbiasa dibiarkan tanpa dikendalikan.

Allah ﷻ juga berfirman tentang tujuan puasa:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Ramadhan adalah madrasah takwa. Ia melatih kita menahan lapar, dahaga, dan juga syahwat. Jika di bulan ini kita mampu mengendalikan diri, maka itu tanda hati masih hidup. Namun jika tetap larut dalam maksiat, maka itu alarm bahaya bagi jiwa.

Maka mari jadikan Ramadhan sebagai momentum taubat yang sungguh-sungguh. Perangi hawa nafsu, bersihkan hati, dan perbanyak istighfar.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang benar-benar mengambil pelajaran dari Ramadhan dan keluar darinya dalam keadaan lebih bertakwa.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.

Lulusan Sarjana di STIBA AR-Raayah (IMC) & Magister di Philadelphia University Yordania

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *