الحمد لله الذي خلق الإنسان وعلّمه البيان، وأمره بحفظ لسانه، ونهاه عن البهتان، أحمده سبحانه وأشكره، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
أما بعد، فيا عباد الله، اتقوا الله حق التقوى، وراقبوه في السر والنجوى.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Di zaman dahulu, dosa lisan terbatas pada apa yang terucap di majelis. Jika seseorang berbicara buruk, mungkin hanya didengar oleh beberapa orang.
Namun hari ini, satu kalimat yang kita tulis bisa menyebar ke ribuan bahkan jutaan manusia dalam hitungan detik. Satu komentar bisa melukai hati banyak orang. Satu “share” bisa menyebarkan fitnah ke berbagai penjuru.
Seorang ulama berkata: “Dahulu lisanmu di hadapanmu, kini lisanmu ada di tanganmu.”
Allah ﷻ berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada satu kata pun yang diucapkan melainkan ada malaikat yang mencatat.”¹
Ma’asyiral muslimin,
Bayangkan seseorang duduk santai di rumahnya. Ia membuka ponsel, lalu melihat sebuah berita yang belum jelas kebenarannya. Tanpa berpikir panjang, ia menekan tombol “bagikan”.
Dalam beberapa menit, berita itu tersebar luas. Ada yang panik, ada yang marah, ada yang tersinggung. Padahal berita itu belum tentu benar.
Inilah yang Allah peringatkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian berita, maka telitilah.”²
Betapa banyak dosa yang lahir bukan dari kebencian, tetapi dari kelalaian.
Ma’asyiral muslimin,
Ada pula seseorang yang menulis komentar pedas di media sosial. Ia merasa aman karena tidak berhadapan langsung. Ia merasa ringan karena hanya mengetik, bukan berbicara.
Namun ia lupa, bahwa di sisi Allah, tulisan dan ucapan sama saja.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ³
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.”
Jika tidak mampu berkata baik, maka diam lebih selamat. Bahkan diam di era media sosial berarti tidak ikut berkomentar, tidak ikut menyebarkan, dan tidak ikut memperkeruh suasana.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Bayangkan pula seseorang yang membuka aib orang lain di media sosial. Mungkin awalnya hanya candaan, atau sekadar ingin viral.
Padahal Allah ﷻ berfirman:
وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا
“Janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Apakah kalian suka memakan daging saudara kalian yang telah mati?”⁴
Jika satu kalimat saja sudah diibaratkan memakan bangkai saudara sendiri, lalu bagaimana dengan tulisan yang dibaca oleh ribuan orang?
Ma’asyiral muslimin,
Lisan adalah sebab keselamatan, namun juga sebab kebinasaan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ⁵
“Tidaklah manusia tersungkur di neraka kecuali karena hasil lisan mereka.”
Hari ini, “hasil lisan” itu bukan hanya suara, tetapi juga tulisan, komentar, status, dan unggahan kita.
Maka berhati-hatilah… karena jari kita bisa menjadi saksi di hari kiamat.
أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
Khutbah Kedua
الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه، وأشهد أن لا إله إلا الله، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Mari kita renungkan sejenak.
Berapa banyak waktu yang kita habiskan di media sosial?
Dan berapa banyak dari itu yang menjadi pahala, dan berapa yang menjadi dosa?
Ada orang yang setiap hari mengunggah kebaikan, mengingatkan shalat, membagikan ayat dan hadits. Maka setiap orang yang membaca, ia mendapat pahala.
Namun ada pula yang setiap hari menyebarkan celaan, kebencian, dan fitnah. Maka setiap yang membaca, bisa menjadi dosa yang terus mengalir.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ⁶
“Seseorang mengucapkan satu kalimat tanpa dipikirkan, yang menyebabkan ia terjatuh ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat.”
Ma’asyiral muslimin,
Mari kita ubah cara kita menggunakan media sosial:
Jika tidak bermanfaat, tinggalkan.
Jika tidak benar, jangan sebarkan.
Jika menyakiti, tahan.
Jika baik, sebarkan.
Karena satu kalimat bisa menjadi sebab surga, dan satu kalimat bisa menjadi sebab neraka.
Allah ﷻ berfirman:
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Tolaklah dengan cara yang lebih baik.”⁷
Jangan balas keburukan dengan keburukan. Balas dengan akhlak, dengan doa, dan dengan diam yang bermartabat.
Semoga Allah menjaga lisan kita, tulisan kita, dan menjadikan media sosial kita sebagai ladang pahala, bukan ladang dosa.
اللهم احفظ ألسنتنا وأقلامنا، اللهم طهر قلوبنا، واجعلنا من عبادك الصالحين، واغفر لنا ولوالدينا وللمسلمين أجمعين.
عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون، فاذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم، وأقم الصلاة.
Footnote
- Al-Qur’an, QS. Qaf: 18.
- Al-Qur’an, QS. Al-Hujurat: 6.
- HR. Bukhari, no. 6018; Muslim, no. 47.
- Al-Qur’an, QS. Al-Hujurat: 12.
- HR. Tirmidzi, no. 2616.
- HR. Bukhari, no. 6477; Muslim, no. 2988.
- Al-Qur’an, QS. Fussilat: 34.
