“Setiap Kita Memiliki Ismail”
الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه كما يحب ربنا ويرضى، له الحمد في الأولى والآخرة وله الحكم وإليه ترجعون.
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، شهادةً تُنجينا يوم اللقاء، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم تسليمًا كثيرًا.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر الله أكبر ولله الحمد.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Hari ini bumi dipenuhi takbir.
Langit-langit dipenuhi pujian kepada Allah.
Hati orang-orang beriman bergetar mengenang satu kisah yang tidak pernah usang dimakan zaman.
Kisah seorang ayah tua yang begitu lama menanti hadirnya seorang anak.
Bertahun-tahun Ibrahim menunggu. Rambutnya memutih. Usianya senja. Hingga akhirnya Allah menghadiahkan seorang putra yang begitu dicintainya: Ismail.
Bayangkan betapa besar cinta Ibrahim kepada Ismail.
Ia bukan sekadar anak.
Ia adalah penantian panjang.
Ia adalah doa yang bertahun-tahun naik ke langit.
Ia adalah harapan yang tumbuh di masa tua.
Namun ketika cinta itu sedang begitu kuat-kuatnya, Allah menguji Ibrahim dengan perintah yang mengguncang langit dan bumi:
“Sembelihlah Ismail.”
Bukan karena Allah ingin darah Ismail.
Bukan karena Allah ingin kematian seorang anak.
Tetapi Allah ingin melihat:
siapa yang paling tinggal di hati Ibrahim?
Allah… atau Ismail?
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Sering kali yang paling berat bukan kehilangan harta.
Yang paling berat adalah ketika Allah meminta kita melepaskan sesuatu yang sangat kita cintai.
Sebab setiap kita memiliki “Ismail”.
Ada orang yang Ismail-nya adalah hartanya.
Ia begitu sibuk mengumpulkan dunia hingga lupa sujudnya.
Ada yang Ismail-nya adalah jabatan dan kedudukannya.
Ia rela kehilangan kejujuran demi mempertahankan nama dan kehormatan.
Ada yang Ismail-nya adalah anaknya sendiri.
Begitu cinta kepada anak sampai lupa mengenalkan anak kepada Allah.
Ada yang Ismail-nya adalah dirinya sendiri.
Egonyalah yang paling ia sembah.
Perasaannya paling ingin dimenangkan.
Keinginannya paling ingin dituruti.
Dan hari raya ini datang untuk bertanya kepada kita:
“Apa Ismail-mu?”
Apa yang paling sulit engkau lepaskan demi Allah?
Apa yang paling sering membuatmu lalai dari Allah?
Apa yang diam-diam lebih engkau takutkan kehilangannya dibanding kehilangan ridha Allah?
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ketahuilah…
Allah tidak benar-benar meminta Ibrahim membunuh Ismail.
Allah hanya ingin Ibrahim membunuh rasa memiliki terhadap Ismail.
Karena sejatinya semua yang kita miliki hanyalah titipan.
Anak yang kita banggakan adalah milik Allah.
Harta yang kita genggam adalah milik Allah.
Jabatan yang kita pertahankan adalah milik Allah.
Bahkan tubuh dan umur kita pun milik Allah.
Maka Idul Adha mengajarkan kepada kita:
Jangan sampai cinta kepada dunia membuat kita jauh dari Rabb semesta alam.
Hari ini kita menyembelih hewan qurban.
Tetapi sesungguhnya yang Allah lihat bukan daging dan darahnya.
Allah ﷻ berfirman:
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
“Daging-daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Yang Allah lihat adalah hati yang tunduk.
Hati yang rela taat walaupun berat.
Hati yang tetap memilih Allah meskipun harus menangis.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Lihatlah Ismail muda…
Ketika ayahnya berkata:
“Wahai anakku, aku bermimpi menyembelihmu.”
Ismail tidak memberontak.
Tidak marah.
Tidak lari.
Ia justru berkata:
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Subhanallah…
Seorang ayah yang taat.
Seorang anak yang tunduk.
Keluarga yang dibangun di atas iman.
Maka Idul Adha bukan sekadar perayaan.
Ia adalah pelajaran tentang keluarga yang dipenuhi tauhid.
Tentang rumah yang mendahulukan Allah di atas segalanya.
Betapa banyak rumah hari ini megah bangunannya, tetapi rapuh imannya.
Betapa banyak keluarga sibuk memenuhi kebutuhan dunia, tetapi lupa menanamkan sujud kepada anak-anaknya.
Padahal generasi hebat tidak lahir hanya dari kecerdasan.
Tetapi dari ketundukan kepada Allah.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Hari ini mari kita bertanya kepada diri kita sendiri:
Apakah selama ini kita sudah menjadi Ibrahim yang taat?
Apakah kita sudah menjadi Ismail yang sabar?
Apakah rumah kita sudah dipenuhi takbir dan ketaatan?
Jangan sampai umur bertambah, tetapi hati semakin jauh dari Allah.
Jangan sampai dunia semakin kita genggam, tetapi akhirat semakin kita lepaskan.
Sebab pada akhirnya…
semua akan pergi.
Harta akan ditinggalkan.
Jabatan akan dilepaskan.
Manusia yang kita cintai akan berpisah.
Dan yang tersisa hanyalah amal serta kedekatan kita kepada Allah.
Maka siapa yang hari ini masih memiliki luka,
datanglah kepada Allah.
Siapa yang hatinya lelah,
kembalilah kepada Allah.
Siapa yang terlalu mencintai dunia,
ingatlah bahwa semua hanyalah sementara.
Karena kebahagiaan sejati bukan ketika memiliki segalanya.
Tetapi ketika Allah tetap menjadi yang paling utama di hati kita.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر الله أكبر ولله الحمد.
أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين فاستغفروه، إنه هو الغفور الرحيم.
